Rekognasi Pemerintah Daerah dan Dinas Terkait kepada Balittri

Rekognasi Pemerintah Daerah

Rekognasi Pemerintah Daerah dan Dinas Terkait kepada Balittri

Rekognasi Pemerintah Daerah

Rekognasi Pemerintah Daerah

Kerjasama Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor telah terjalin sejak tahun 2013. Berbagai bentuk kegiatan yang telah dikerjasamakan adalah: pelatihan petugas dan petani karet dan kopi, bimbingan teknis budidaya karet dan kopi untuk petani, dan penyediaan bibit karet dan kopi.

Teknis Budidaya Tanaman Karet

Pada tanggal 26 April telah dilakukan acara “Temu Teknis Budidaya Tanaman Karet untuk Program Rehabilitasi Usaha Karet Rakyat” di Aula UPT Pengembangan Teknologi dan Peredaran Hasil Wilayah Cariu. Petani yang menjadi peserta pada kegiatan tersebut sebanyak 25 orang yang berasal dari 2 Kacamatan, yaitu Kecamatan Cariu dan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Peneliti Balittri

Peneliti Balittri yang ditugaskan untuk menjadi narasumber dalam acara tersebut adalah Dr. Ir. Samsudin, M.Si dan Ir. Rusli. Acara tersebut berjalan dengan sangat dinamis, karena proses belajar mengajar dilakukan secara interaktif dengan adanya tanya jawab antara peserta dan narasumber tentang berbagai permasalahan budidaya karet di lapangan.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Kehutanan

Dalam sambutannya Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor menyampaikan terima kasih kepada pihak Balittri yang selama ini telah mendampingi berbagai program pro rakyat yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Sementara itu Kepala Seksi Produksi Bidang Perkebunan menyampaikan rencana program tahun 2016 berikutnya adalah pelatihan budidaya kopi untuk petani yang akan dilaksanakan di Balittri pada bulan Juni 2016 dengan jumlah peserta 50 orang. (Elsera)

Artikel tekait:

Mengenal Potensi Kopi Arabika di Pengunungan Latimojong

Mengenal Potensi Kopi Arabika

Mengenal Potensi Kopi Arabika di Pengunungan Latimojong

Mengenal Potensi Kopi Arabika

Mengenal Potensi Kopi Arabika di Pengunungan Latimojong

Fund-gregorio-maranon.Com – Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yaitu gunung Latimojong, menjadi terkenal ketika pesawat terbang berbadan kecil, Aviastar, ditemukan sudah menjadi puing di salah satu lokasi. Kejadian tersebut hendaknya menjadi pelajaran bahwa puncak tertingginya yang mencapai > 3.400 m dpl tidak boleh dianggap enteng oleh pilot pesawat terbang berpengalaman sekalipun.

Namun, di balik kisah kelam tersebut, Gunung Latimojong menyimpan potensi sosial ekonomi yang tinggi. Bupati Luwu, Ir. H. Andi Mudzakkar, MH, bercita-cita suatu saat wilayah pegunungan tersebut berubah menjadi kawasan agrowisata yang mendatangkan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakatnya. Salah satu potensi yang sedang sedang dikembangkan saat ini adalah kopi Arabika di Desa Boneposi, Ulusalu, Tibussang, dan Lambanan. Akhir-akhir ini mulai dikenal produk kopi unik dari daerah tersebut yang diberi nama ”kopi Bisang”, meskipun belum ada penjelasan ilmiah mengenai hewan sejenis musang yang disebut Bisang tersebut.

Wilayah pegunungan Latimojong

Wilayah pegunungan Latimojong yang berada pada ketiggian > 1.000 m dpl dengan curah hujan rata-rata > 2.000 mm per tahun dinilai cocok untuk budidaya kopi Arabika. Hanya saja, budidaya kopi Arabika oleh petani di empat desa tersebut pada umumnya masih belum menerapkan teknologi anjuran sehingga produktivitas dan mutu hasilnya belum optimal. Varietas kopi Arabika yang disukai petani saat ini diduga berasal dari galur Catimor dengan ciri-ciri perawakannya pendek (katai), dompolan buah rapat, dan relatif cepat berbuah. Meskipun demikian, masih terdapat populasi varietas Typica yang sudah dikembangkan sejak masa kolonial Belanda dengan kondisi yang umumnya dibiarkan tidak terawat.

Kopi Arabika Latimojong

Bagi petani kopi, masalah utama yang dihadapi dalam produksi kopi adalah serangan hama dan penyakit. Hama penggerek buah kopi (PBKo), intensitas serangannya mulai meresahkan. Akibat serangan hama tersebut biji kopi yang dipanen banyak yang rusak berlubang hingga membusuk sehingga menurunkan mutu hasil dan harganya rendah. Petani sangat mengharapkan inovasi teknologi pengendalian hama dan penyakit kopi yang efektif dan murah agar dapat menekan kehilangan hasil secara maksimal.

Penggunaan pestisida kimia dihawatirkan akan menimbulkan resistensi hama dan penyakit, meninggalkan residu kimia berbahaya pada produk, serta mencemari tanah dan air. Peran institusi litbang sangat diperlukan dalam penyediaan teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi yang ramah lingkungan. (Dani)

Sumber : http://bkpsdm.pringsewukab.go.id/blog/cara-menanam-buah-naga/