Disdik Upayakan MPLS Jauh dari Perploncoan

Disdik Upayakan MPLS Jauh dari Perploncoan

Disdik Upayakan MPLS Jauh dari Perploncoan

Disdik Upayakan MPLS Jauh dari Perploncoan

Ciri-ciri Perploncoan:

Ada unsur penindasan.
Ada niat untuk melukai. Baik secara fisik ataupun mental.
Memerintah dengan cara membentak.
Mengganggap kekerasan adalah lelucon.
Hukuman berupa tindakan kekerasan atau fisik.

[/box]

SUMUR BANDUNG – Memasuki tahun ajaran baru, Masa Pengenalan Lingkungan

Sekolah Siswa (MPLS) dimulai. Namun, kegiatan penyambutan siswa baru yang cenderung menindas secara fisik dan psikis harus dihentikan. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, akan menerapkan sanksi berat terhadap kepala sekolahnya apabila terjadi perpseperti itu di sekolahnya.

’’Kita akan ganti kepala sekolahnya (juga),’’ tegas dia saat ditemui di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, kemarin (27/7).

Secara teknis, jelas Ridwan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk mengantisipasi kegiatan perploncoan. Senioritas sajam kata Ridwan, pihaknya tidak menyetujui. Apalagi perploncoan. ’’Itu minggu ini kita diskusikan. Saya tidak setuju adanya senioritas, apalagi adanya kekerasan fisik. Dan saya akan pastikan ke Disdik itu tidak akan terjadi di Kota Bandung,’’ jelas dia.

Pria yang akrab disapa Emil ini menilai, kegiatan MPLS perlu diarahkan ke yang lebih mendidik.

Sebab, menurut pantauan Emil, para pelajar di Kota Bandung belum mengenal pendidikan karakter. Dia mencontohkan, percakapan di sosial media antar pelajar mengunakan bahasa yang kasar meski tidak saling tersinggung. Jadi, yang dibutuhkan itu anak-anal sekolah Bandung menjadi lebih sopan.

‘’Contoh kecil ke saya lapor di Twitter, dia menyanjung tapi bahasanya kasar. Pak aing mah bahagia Alun-Alun jadi alus (red.pak saya bahagia, Alun-Alun jadi bagus). Maksudnya kan baik, cuma pilihan bahasanya tidak bisa membedakan,’’ ujar dia.

Dari hasil pantauan, untuk hari pertama masuk sekolah di SDN Cibiru kemarin (27/7), rata-rata siswa di sekolah hanya melaksanakan halal bi halal. Para guru juga mengenalkan diri dan meminta siswa saling berkenalan.

Sementara itu di SMAN 23 Bandung, program MPLS pun sudah direncanakan sejak jauh hari.

Bahkan, pihak sekolah telah bekerjasama dengan instansi pemerintahan untuk menyukseskan kegiatan MPLS. Seperti, Dinas Penanggulangan dan Pencegahan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung untuk memberikan pengetahuan penanggulangan kebakaran kepada siswa dan siswi peserta MPLS.

’’Kita kerja sama dengan dinas kebakaran yang nantinya akan ada simulasi penanganan kebakaran untuk memperkenalakan lingkungan sekolah. Itu nanti hari Rabu kegiatannya (besok),’’ ujar Wakasek Kesiswaan SMAN 23 Bandung Tedi, kemarin (27/7).

Tedi menjelaskan, simulasi kebakaran sangat diperlukan. Mengingat, akhir-akhir ini musibah kebakaran banyak terjadi di Kota Bandung. Hari berikutnya (Kamis), SMAN 23 Bandung akan mengundang dari Badan Geologi untuk memberikan pengetahuan terkait bencana alam. ’’Karena kan kita kalau ada bencana alam seperti gempa nggak tahu penanganannya. Jadi kita lakukan simulasi bencana,’’ ujar dia.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-kerajaan-bali/